Thursday, August 28, 2008

Di Tanah Air, Mereka Tak Mendapatkan Tempat

Oleh P BAMBANG WISUDO dan MARIA HARTININGSIH

Terbuang dari Tanah Air, Triyantono Sucipto (40) kini bisa hidup cukup mapan bersama istri dan empat anaknya di Jerman. Lulus dari SMA Negeri 1 Pemalang, Jawa Tengah, Triyantono sempat setahun belajar di Jurusan Informatika, ITB. Lantaran ingin meringankan beban orangtua, ia memilih meninggalkan ITB, mengikuti program beasiswa yang ditawarkan IPTN.
Master aerodinamika dari Universitas Teknologi Braunschweig, Jerman, itu sempat kerja di Tanah Air, di Departemen Aerodinamika Industri Pesawat Terbang Nasional alias IPTN.
Meski gajinya waktu itu relatif kecil, Rp 400.000 per bulan, ia senang pada pekerjaannya. Ia tergolong pekerja rajin. Setelah beberapa tahun bekerja, ia bisa mengangsur rumah BTN tipe 36. Ketika krisis ekonomi terjadi, subsidi distop, sejumlah pekerjaan dibatalkan, dan banyak pekerja harus diberhentikan.
Dalam situasi itu, Triyantono mencoba mencari pekerjaan lain. Ia sempat melamar ke sebuah maskapai penerbangan, melamar menjadi konsultan manajemen, atau melamar menjadi dosen. Upaya itu kandas, tak satu pun lembaga di dalam negeri yang mau menerimanya. Dalam tekanan ekonomi yang kuat, ia melamar pekerjaan di Jerman.
Ia diterima di biro teknik Ingenieur Buero Dr Kretzscmar, subkontraktor pekerjaan-pekerjaan industri aerospace, khususnya Airbus. Di lembaga itu ada 10 teknisi asal Indonesia, hampir seluruhnya jebolan IPTN.
"Kepindahan keluarga saya ke Jerman waktu itu bukan perkara mudah. Istri dan anak-anak saya sekali pun belum pernah naik pesawat terbang. Mereka harus berada di negara yang sangat asing dalam segala hal. Penguasaan bahasa Jerman mereka nol besar," tutur Triyantono. Ia bersama keluarga hijrah ke Jerman pada tahun 2001.
Triyantono merasa lebih dihargai di Jerman ketimbang di negaranya sendiri. Ruang aktualisasi keilmuan lebih luas, apresiasinya bagus. Gaji yang dibawa pulang, setelah dipotong pajak, sekitar 2.000 dollar AS per bulan, jumlah yang cukup untuk hidup satu keluarga. Jaminan sosial bagus. Sekolah dari SD sampai perguruan tinggi praktis tidak bayar. Asuransi kesehatan ditanggung sehingga tidak perlu lagi memikirkan biaya obat dan dokter. Ia juga mendapatkan peluang yang lebih besar untuk berkembang dan mengaktualisasikan dirinya.
"Sekarang, anak-anak saya sudah mapan dengan lingkungan barunya. Inilah yang menjadi kendala besar kalau saya ditanya kapan balik ke Indonesia. Selain itu, tentu saja kegamangan tentang lapangan pekerjaan, ruang aktualisasi, dan apresiasi yang mesti jadi pertimbangan," papar Triyantono.


Hadapi banyak kesulitan
Dari segi kemampuan intelektual, peneliti, ilmuwan, tenaga ahli dari Indonesia tidak kalah kualitas dibandingkan dengan orang asing. Namun, ketika kebutuhan hidup mereka tidak dijamin, keahlian mereka tidak mendapat penghargaan, dan kemampuan mereka disia-siakan, mereka akhirnya tersisihkan. Bagi mereka yang beruntung bisa mengaktualisasikan dirinya di negara lain dan lebih dihargai daripada di negaranya sendiri. Di dalam negeri, tidak kurang orang-orang pintar yang tersebar di mana-mana.
Indah Kristanti (29), dosen Fakultas Teknologi Pertanian, IPB, sampai sekarang merasa kesulitan mengembangkan kemampuan keilmuannya di Tanah Air. Belum lama mengajar di IPB, Indah mendapatkan beasiswa pertukaran akademik dari lembaga DAAD Jerman pada tahun 1993. Selama sekitar 10 tahun, ia tinggal di negara itu. Ia menyelesaikan program master di Universitas Karlsruhe. Selanjutnya, ia bergabung dalam tim peneliti di Lembaga Riset Federal untuk Nutrisi dan mengikuti promosi doktor di Universitas Hikenhein di Jerman selatan.
Riset yang dilakukan Indah merupakan riset aplikatif yang masih asing di Indonesia. Ia meneliti resin penekan ion yang bertujuan untuk menetralkan kandungan nitrat pada sayur bayam. Masyarakat Jerman sangat menyukai bayam, sehingga mereka ingin memproduksi sayur bayam siap saji beku yang memenuhi ambang batas standar keamanan pangan di sana.
Ketika pulang ke Indonesia, ia merasa bidang yang ia pelajari tidak sesuai dengan ilmu yang dikembangkan dan diajarkan di Jurusan Teknologi Industri Pertanian, IPB. Prinsip-prinsip yang dipelajarinya menekan ion untuk penyerapan nitrat belum dimanfaatkan di Indonesia. Karena itu, Indah hanya membantu riset-reset yang bisa ia lakukan, seperti industri pengolahan jagung. Akan tetapi, itu bukan bidang riset yang bersifat tetap.
"Induk studi yang saya pelajari teknologi pangan, yang banyak peluang dikembangkan di Indonesia. Namun, saya harus memulai lagi," tutur Indah, yang sempat mengelola situs tentang isu pangan dan gizi.
Strategi dan arah pengembangan iptek yang tidak jelas dan tidak konsisten membuat pengembangan sumber daya manusia dalam bidang riset dan teknologi menjadi tidak efektif. Belum lagi persoalan fasilitas untuk melakukan riset, kesejahteraan peneliti, dan penghargaan masyarakat terhadap karya penelitian yang dihasilkan.
Masyarakat Korea Selatan memberikan apresiasi yang begitu tinggi terhadap keberhasilan ilmuwan mereka menciptakan robot yang diberi nama HUBO Einstein. Dengan bangga, Presiden Korea Selatan mempertontonkan kemampuan robot berwajah Einstein yang bisa menunjukkan berbagai macam ekspresi manusia, sekalipun orang belum tahu apa kegunaan penemuan itu. Sementara di Indonesia, hasil penelitian dan penemuan baru tidak menjadi perbincangan masyarakat, apalagi penemunya disanjung-sanjung bak pahlawan.
Orang-orang pintar di Indonesia tersebar di mana-mana, baik di dalam maupun luar negeri. Tak sedikit yang disekolahkan ke luar negeri atas biaya pemerintah memilih tidak pulang, dan bekerja di luar negeri.
Fasilitas dan penghasilan yang diterima merupakan satu pertimbangan, tetapi bukan soal itu saja. Banyak di antara mereka yang merasa keahlian mereka tidak akan memperoleh tempat di Indonesia.
Oleh karena itu, selain menciptakan daya tarik yang lebih baik, untuk menarik orang- orang pintar Indonesia yang berada di luar negeri adalah dengan menciptakan "mainan" atau proyek-proyek yang membuat mereka bisa mengaktualisasikan dirinya di Tanah Air.


Ingin kembali
Yovita Sutanto (25) merasa beruntung karena lolos dalam saringan ketat untuk bekerja di laboratorium riset Monsanto, Transnational Corporation (TNC) di bidang bioteknologi pertanian. Sekarang ia bekerja di pusat laboratorium penelitian Monsanto di St Louis, AS.
Master of Science di bidang mikrobiologi lingkungan lulusan West Virginia University itu sebenarnya ingin kembali ke Indonesia. "Tapi kalau pulang, paling kerja di bank," ujar Yovita.
Yovita menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMA Marsudirini Jakarta, tahun 1998. Ia memberikan beberapa nama temannya dari jurusan ilmu-ilmu murni di AS yang terpaksa harus bekerja di bidang lain, kebanyakan bekerja di bank, sekembali dari AS, karena tidak ada lapangan kerja yang pas.
"Saya kira Pemerintah Indonesia tidak memberi perhatian cukup untuk riset. Saya dengar ada di LIPI, tetapi masih penelitian awal, belum diterapkan di industri. Saya sendiri belum pernah mencoba melamar ke LIPI. Saya masih senang bekerja di sini karena punya kebebasan bereksperimen," sambungnya.
Ia menolak memberi tahu berapa gajinya sebulan setelah dipotong pajak. Peneliti di sana bisa mendapatkan penghasilan 4.000 sampai 6.000 dollar AS per bulan setelah dipotong pajak. Itu berarti sekitar 20 kali lipat gaji yang diterima peneliti senior di Indonesia.
Dana eksperimen di laboratorium sangat besar, kata Jovita. "Anda mendengar sendiri, dana penelitian di Monsanto per tahun sekitar 590 juta dollar AS, dan penelitian untuk menghasilkan satu produk sampai mendapat sertifikasi dan boleh dilempar ke pasar membutuhkan waktu sekitar 10 tahun," lanjut Yovita, sambil menyinggung sepintas tentang beberapa penelitian yang sedang berlangsung di Monsanto.
"Hanya korporasi yang punya dana sebesar itu untuk penelitian," ungkapnya.
Steve Daugherty dari DuPont Corporation, korporasi di bidang bioteknologi yang ditemui di Chicago, AS, menjelaskan, dana riset per tahun korporasi itu jumlahnya sekitar 600 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,4 triliun. Di Indonesia, total anggaran riset pemerintah sekitar Rp 1,3 triliun, termasuk gaji pegawai.
"Kita di Indonesia belum punya lembaga riset independen seperti Donald Danforth Plant Center," kata Yovita. Lembaga riset independen di St Louis itu memperoleh dana dari pemerintah federal, pemerintah pusat, korporasi-korporasi transnasional di bidang bioteknologi pertanian, dan pribadi-pribadi yang mempunyai perhatian di bidang penelitian.

Sumber: Kompas, Rabu, 03 Mei 2006

2 comments:

Geografi Dadang said...

gila gila....

Geografi Dadang said...

ya saya setuju..di tanah aur kita tercinta ini prestasi belum jadi yang utama....masa masuk kerja syaratnya punya duit dan orang dalam ....gila kali ya....